Titrasi kompleksometri ialah suatu titrasi berdasarkan reaksi pembentukan
senyawa kompleks antara ion logam dengan zat pembentuk kompleks (liganda) (Day
& Underwood, 1986).
Liganda yang banyak digunakan adalah Dinatrium Etilen
Diaminna Tetra Asetat (Na2EDTA) yang dikenal juga dengan nama Versen, Complexon
III, Sequesterene, Nullapon, Trilon B, Idnarat III, dan sebagainya. Dinatrium
Etilen Diaminna Tetra Asetat adalah suatu liganda yang heksadentat (mempunyai
enam buah atom donor pasangan elektron), yaitu melalui kedua atom nitrogen dan
keempat atom oksigen dari OH (Harjadi, 1993).
Macam-macam titrasi yang sering digunakan dalam kompleksometri, antara lain
:
(1) Titrasi langsung
Titrasi ini biasa digunakan untuk ion-ion yang tidak
mengendap pada pH titrasi, reaksi pembentukan kompleksnya berjalan cepat.
Contoh penentuannya ialah untuk ion-ion Mg, Ca, dan Fe.
(2) Titrasi kembali
Titrasi ini digunakan untuk ion-ion logam yang
mengendap pada pH titrasi, reaksi pembentukan kompleksnya berjalan lambat. Contoh
penentuannya ialah untuk penentuan ion Ni.
(3) Titrasi penggantian atau titrasi substitusi
Titrasi ini digunakan untuk ion-ion logam yang tidak
bereaksi sempurna dengan indikator logam yang membentuk kompleks EDTA yang
lebih stabil daripada kompleks ion-ion logam lainnya, contoh penentuannya ialah
untuk ion-ion Ca dan Mg.
(4) Titrasi tidak langsung
Titrasi ini dilakukan dengan cara, yaitu :
a. Titrasi kelebihan
kation pengendap (misalnya penetapan ion sulfat, dan fosfat).
b. Titrasi kelebihan
kation pembentuk senyawa kompleks (misalnya penetapan ion sianida) (Bassett et
al., 1994).
Penentuan titik akhir titrasi kompleksometri dilakukan dengan cara visual,
sebagai indikator digunakan jenis indikator logam seperti : EBT, Mureksida,
Xylenol Orange, Calcon, Dithizon, pan>Asam Sulfosalisilat. Indikator
logam merupakan suatu asam atau basa organik yang dapat membentuk kelat dengan
ion logam dan warna kelat tersebut berbeda dari warna indikator bebas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar