Jumat, 30 Maret 2012

TITRASI ASAM BASA

 
Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa)
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.
2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

Rumus Umum Titrasi 
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa 
keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)
Anda bisa menggunakan rumus diatas bila anda menhadapi soal-soal yang melibatkan titrasi.                

Minggu, 25 Maret 2012

Dosis Obat

PENGERTIAN UMUM MENGENAI DOSIS

Dengan dosis obat dimaksud jumlah obat yang diberikan kepada penderita dalam satuan berat (gram, milligram,mikrogram) atau satuan isi (liter, mililiter) atau unit-unit lainnya (Unit Internasional). Kecuali bila dinyatakan lain maka yang dimaksud dengan dosis obat yaitu sejumlah obat yang memberikan efek terapeutik pada penderita dewasa, juga disebut dosis lazim atau dosis medicinalis atau dosis terapeutik. Bila dosis obat yang diberikan melebihi dosis terapeutik terutama obat yang tergolong racun ada kemungkinan terjadi keracunan, dinyatakan sebagai dosis toxic. Dosis toxic ini dapat sampai mengakibatkan kematian, disebut sebagai dosis letal.
Obat-obat tertentu memerlukan dosis permulaan (initial dose) atau dosis awal (loading dose) yang lebih tinggi dari dosis pemeliharaan (maintenance dose). Dengan memberikan dosis permulaan yang lebih tinggi dari dosis pemeliharaan (misalnya dua kali), kadar obat yang dikehendaki dalam darah dapat dicapai lebih awal. Hal ini dilakukan antara lain pada pemberian oral preparal Sulfa (Sulfisoxazole,Trisulfa pyrimidines), diberikan dosis permulaan 2 gram dan diikuti dengan dosis pemeliharaan 1 gram tiap 6 jam.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DOSIS OBAT
Dosis obat yang diberikan kepada penderita dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor obat, cara pemberian obat tersebut dan penderita. Terutama faktor-faktor penderita seringkali kompleks sekali, karena perbedaan individual terhadap respon obat tidak selalu dapat diperkirakan. Ada kemungkinan ketiga faktor tersebut di bawah ini didapati sekaligus.
Faktor Obat
1. Sifat fisika : daya larut obat dalam air/lemak, kristal/amorf, dsb. 2. Sifat kimiawi : asam, basa, garam, ester, garam kompleks, pH, pKa. 3. Toksisitas : dosis obat berbanding terbalik dengan toksisitasnya.
Cara Pemberian Obat Kepada Penderita
1. Oral : dimakan atau diminum 2. Parenteral : subkutan, intramuskular, intravena, dsb 3. Rektal, vaginal, uretral 4. Lokal, topikal 5. Lain-lain : implantasi, sublingual, intrabukal, dsb
Faktor Penderita
1. Umur : neonatus, bayi, anak, dewasa, geriatrik 2. Berat badan : biarpun sama-sama dewasa berat badan dapat berbeda besar 3. Jenis kelamin : terutama untuk obat golongan hormon 4. Ras : “slow & fast acetylators” 5. Toleransi 6. Obesitas : untuk obat-obat tertentu faktor ini harus diperhitungkan 7. Sensitivitas individual 8. Keadaan pato-fisiologi : kelainan pada saluran cerna mempengaruhi absorbsi obat, penyakit hati mempengaruhi metabolisme obat, kelainan pada ginjal mempengaruhi ekskresi obat

Sabtu, 17 Maret 2012

TITRASI


Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dgn konsentrasi yg diketahui & diperlukan utk bereaksi secara lengkap dg sejumlah contoh tertentu yg akan di analisis.

Jenis-Jenis Titrasi Asam Basa
Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu :
1. Asam kuat - Basa kuat
2. Asam kuat - Basa lemah
3. Asam lemah - Basa kuat
4. Asam kuat - Garam dari asam lemah
5. Basa kuat - Garam dari basa lemah

Cara Melakukan Titrasi Asam Basa
1. Zat penitrasi (titran) yang merupakan larutan baku dimasukkan ke dalam buret yang telah ditera
2. Zat yang dititrasi (titrat) ditempatkan pada wadah (gelas kimia atau erlenmeyer).Ditempatkan tepat dibawah buret berisi titran
3. Tambahkan indikator yang sesuai pada titrat, misalnya, indikator fenoftalien
4. Rangkai alat titrasi dengan baik. Buret harus berdiri tegak, wadah titrat tepat dibawah ujung buret, dan tempatkan sehelai kertas putih atau tissu putih di bawah wadah titrat
5. Atur titran yang keluar dari buret (titran dikeluarkan sedikit demi sedikit) sampai larutan di dalam gelas kimia menunjukkan perubahan warna dan diperoleh titik akhir titrasi. Hentikan titrasi !

http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Sri%20Ratisah%20054828/Img/buret.jpg

Indikator Asam Basa
>> Indikator asam basa adalah asam lemah atau basa lemah (senyawa organik) yang dalam larutannya warna molekul-molekulnya berbeda dengan warna ion-ionnya
>> Zat indikator dapat berupa asam atau basa yang larut, stabil, dan menunjukkan perubahan warna yang kuat.
>> Indikator asam-basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH

Senin, 12 Maret 2012

10 Macam Anion Beserta Nama & Rumusnya


NO
Anion
Nama Senyawa
1.
OH-

Hidroksida
2.
PO3-3

Fosfit
3.
P-3

Fosfida
                                        
4.
Br-
Bromida


5.
O-2
Oksida


6.
Cl-
Klorida


7.
P-3

Fosfida
8.
NO3-
Nitrat


9.
CH3COO-
Asetat


10
C2O4-2
Oksalat



Sabtu, 03 Maret 2012

Kation dan Analisisnya


Kation adalah ion yang bermuatan positif

Terdapat beberapa contoh dari ion yang bermuatan positif ini yaitu :

  •  Natrium (Na+),
  • Kalium (K +),
  • Kalsium (Ca2+),
  • Magnesium (Mg2+). 
  •  Perak (Ag+)
  • Barium (Ba+)
  • Almunium (AL3+)
  • Timbal II (Pb2+)
  • Cobalt (CO3+)
  • Besi II (Fe2+)
  • Litium (LI+)



- Analisis Kation

Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation – kation diklasifikasikan dalam lima golongan bedasarkan sifat – sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang peling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan ammonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia – reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Jadi boleh dikatakan bahwa klasifikasi kation yang paling umum, didasarkan atas kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut. Kelima golongan kation dan ciri – ciri khas golongan – golongan ini adalah sebagai berikut :
1.      Golongan I (golongan perak)
            Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Endapan yang terjadi semua berwarna putih. Ion – ion golongan ini adalah timbel, merkurium (I) atau raksa,  dan perak.
2.      Golongan II ( IIA - golongan tembaga ; IIB – golongan arsen )
            Kation - kation golongan II diendapkan sebagai garam sulfidanya dengan cara mengalirkan H2S dalam larutan analit yang suasanya asam. Endapan sulfida warnanya bermacam – macam, sehingga dapat digunakan untuk menduga kation yang ada.
3.      Golongan III (IIIA- golongan besi ; IIIB-golongan seng)
            Kation – kation golongan IIIA (golongan besi) diendapkan sebagai hidroksidanya dengan menambahkan NH4Cl dan NH4OH. Endapan hidroksida pada golongan ini warnanya bermacam-macam. Kation golongan IIIB (golongan seng) diendapkan sebagai garam sulfidanya dengan mengalirkan gas H2S dalam larutan analit yang suasananya basa ( dengan larutan buffer NH4Cl + NH4OH )
4.      Golongan IV (golongan kalsium)
            Kation golongan ini tak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III. Kation – kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam, kation – kation golongan ini adalah : kalsium, stronsium, dan barium. Beberapa sistem klasifikasi golongan meniadakan pemakaian ammonium klorida disamping ammonium karbonat senagai reagensia golongan; dalam hal ini, magnesium harus juga dimasukkan kedalam golongan ini. Tetapi, karena dalam pengerjaan analisis yang sistematis, ammonium klorida akan terdapat banyak sekali ketika kation – kation golongan keempat hendak diendapka, adalah lebih logis untuk tidak memasukkan magnesium kedalam golongan IV.
5.      Golongan V (golongan alkali)
            Kation – kation golongan V merupakan golongan sisa, setelah dilakukan pemisahan golongan secara berurutan. Untuk menentukan adanya kation NH4+, harus diambil dari larutan analit mula – mula (sebelum dilakukan pemisahan). untuk kation Ca2+, Ba2+, Sr2+, Na2+m dan K+, identifikasi dapat dilakukan dengan uji nyala. Analisis kation dalam tiap – tiap golongan dilakukan sesuai langkah – langkah tertentu, sehingga ,asing – masing kation akhirnya dapat diidentifikasi.